Di sebuah pesantren, ada dua kelompok santri: Kelompok A dan Kelompok B.
Santri di Kelompok A memiliki target menghafal 5 ayat Al-Qur'an per hari, sedangkan Kelompok B 7 ayat per hari.
Pada suatu hari, pimpinan pesantren memeriksa laporan hafalan. Ia melihat jumlah seluruh santri adalah 20 orang, dan total hafalan dari kedua kelompok dalam sehari adalah 118 ayat.
Beliau pun berpikir, "Kalau begitu, sebenarnya berapa santri yang ada di Kelompok A, dan berapa yang ada di Kelompok B? Kalau saya tahu, saya bisa mengatur strategi hafalan yang lebih baik."
🔍 Menyusun Informasi Menjadi Persamaan
Ustadz pembimbing mulai mengumpulkan data. Ia menuliskan:
Ustadz mencoba mencari tahu jumlahnya.
Dari persamaan pertama, ia pikir: "Kalau jumlah santri semua 20, berarti santri Kelompok B adalah 20 − x."
Ia pun mengganti y dengan 20 − x di persamaan kedua:
Lalu ia menghitung perlahan:
Ustadz melihat, 5x − 7x = −2x, sehingga:
Dikurangi 140 pada kedua sisi:
Bagi -2:
Ustadz tersenyum, "Ah, ternyata Kelompok A ada 11 santri, dan Kelompok B sisanya, yaitu 20 − 11 = 9 santri."
Dengan data ini, pimpinan pesantren bisa membuat strategi hafalan:
- Kelompok A fokus menambah konsistensi.
- Kelompok B diberi tantangan muroja'ah lebih sering.
💡 Pesan Moral
Matematika bukan hanya soal angka di kertas. Ia bisa membantu mengatur kegiatan keagamaan dengan lebih terencana dan adil.
Allah telah memudahkan perhitungan, tinggal kita mau memanfaatkannya atau tidak.